Gereja dan Politik Kekuasaan

Kita semua mungkin masih ingat dengan tulisan Afi Nihaya Faradisa yang berjudul WARISAN yang kontroversial itu.

Sudah 40 tahun lebih saya menjadi anggota jemaat di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Saya belum pernah merasakan “kehangatan” GKPS dalam hidup saya, selain pada saat Mamak dan Bapak saya meninggal, pada saat saya Manaksihon Haporsayaon (Naik/Angkat Sidi), pada saat Marhajabuan (menikah), dan pada saat anak-anak saya Tardidi (dibaptis). Dengan kata lain GKPS itu hanya hadir saat kelahiran, kekawinan, dan kemeninggalan.

Tapi sampai hari ini saya tetap merasakan Jamahan Hangat Tangan Tuhan dalam hidup saya dan keluarga melalui hubungan pribadi dengan Tuhan.

Saya menjadi anggota jemaat GKPS karena almarhum orang tua saya juga jemaat GKPS. Maka dari itu saya juga akan berbuat untuk GKPS melalui banyak hal yang tidak usah disebutkan satu persatu dalam tulisan ini sebagai wujud dari rasa bangga memiliki orang tua yang luar biasa. Salah satunya adalah melalui buah pikiran dan ide yang kadang gila tapi bisa bermanfaat.

Kehadiran GKPS dalam masyarakat umumnya dan jemaat GKPS khususnya, sebaiknya dilakukan dengan memberikan dukungan moril dan bahkan jika bisa dukungan teknis untuk MEMBANTU seluruh PROGRAM pemerintah pusat dan daerah.

Beberapa contoh dapat saya sebutkan disini:
Memberikan pelatihan bagaimana meningkatkan penjualan online bagi warga GKPS yang banyak menggeluti bisnis online. Instrukturnya bisa didapatkan dari para professional dan Dosen yang juga anggota jemaat GKPS.
Memberdayakan jaringan produksi dan distribusi hasil usaha jemaat GKPS agar bisa sampai kepada konsumen dengan menggunakan aplikasi berbasis android yang bisa diunduh di google playstore.
Menyiapkan database seluruh warga GKPS yang terdaftar sebagai anggota jemaat. Sehingga seluruh jemaat akan tahu tentang jaringan bisnis, jaringan sosial, dan jaringan positif lainnya yang bisa dibangun dengan informasi dari database tersebut.
Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk memberdayakan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh GKPS. Tapi pada kesempatan ini, biarlah ini saja dulu, jika terlalu panjang juga banyak yang malas membacanya.

Tidak usahlah ikutkan Gereja dalam politik kekuasaan. Nanti Bapak capek sendiri. Baik Bapak baca beberapa saran saya di atas. Mungkin akan lebih bermanfaat. Anggota jemaat akan merasakan kehadiran GKPS dalam denyut nadi kehidupannya.

Sekali lagi. Berusahalah agar anggota jemaat GKPS merasakan “kehangatan” GKPS dalam hidupnya. Bukan ikutan politik kekuasaan.

Salam dari Batam.
Mortigor Afrizal Purba,S.E.Ak.,M.Ak.,C.A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *